PENDIDIKAN MATEMATIKA REALISTIK (PMR)

Pendidikan Matematika Realistik (PMR) diadopsi dari kata Realistic Mathematic Education (RME) yang merupakan teori pembelajaran dalam pembelajaran matematika. RME pertama kali diperkenalkan dan dikembangkan pada tahun 1971 oleh Institut Freudenthal di Belanda. Menurut PMR, matematika harus dikaitkan dengan realita dan matematika merupakan aktivitas manusia. Ini berarti matematika harus dekat dengan anak dan relevan dengan kehidupan nyata sehari-hari. Menurut Gravemeijer, (dalam Suharta, 2003:3) matematika sebagai aktivitas manusia berarti manusia harus diberikan kesempatan untuk menemukan kembali ide dan konsep matematika dengan bimbingan orang dewasa. Menurut Slettenhaar (dalam Suharta, 2003:3), upaya ini dilakukan melalui penjelajahan berbagai situasi dan persoalan-persoalan “realistik”. Realistik dalam hal ini dimaksudkan tidak mengacu pada realitas tetapi pada suatu yang dapat dibayangkan oleh siswa. Prinsip penemuan kembali dapat diinspirasi oleh prosedur-prosedur pemecahan masalah, sedangkan proses penemuan kembali menggunakan konsep matematisasi.
Menurut Treffer (dalam Suharta, 2003:3), ada dua tipe matematisasi, yaitu matematisasi horizontal dan vertikal. Matematisasi horizontal meliputi pengidentifikasian, perumusan, dan penvisualisasian masalah dalam cara-cara 1.
yang berbeda, dan pentransformasian masalah dunia real kemasalah matematika. Matematisasi vertikal meliputi refresentasi hubungan-hubungan dalam rumus, perbaikan dan penyesuaian model matematika, penggunaan model yang berbeda, dan penggeneralisasian. Menurut Van den Heuvel-Panhuizen (dalam Suharta, 2003:3) kedua tipe matematika ini mendapat perhatian yang seimbang, karena kedua tipe matematika ini mempunyai nilai yang sama.
Menurut de Lange (dalam Arifin, 2003 : 3), PMR adalah pembelajaran matematika yang mengacu pada konstruktivis sosial dan dikhususkan pada pendidikan matematika. Pandangan pendidikan matematika realistik, bahwa pengembangan suatu konsep dimulai oleh siswa untuk berkreasi mengembangkan pemikirannya. Pengembangan konsep berawal dari pengalaman siswa dan siswa menggunakan strateginya masing-masing dalam memperoleh suatu konsep. Guru diharapkan tidak tergesa-gesa menyampaikan pemikirannya kepada siswa tentang sesuatu hal yang belum dibahas. Bila suatu materi dirasa sulit, siswa dapat membentuk kelompok kecil, sehingga terjadi negosiasi antar siswa dalam mendiskusikan materi yang sulit tersebut. Guru hanya sebagai fasilitator atau pendamping yang akan meluruskan arah pemikiran siswa.
Menurut Treffer (1991) (dalam Prayitno, 2003 : 25) teori PMR secara umum terdiri dari lima karakteristik, yang dikenal sebagai Progressive Mathematisazion yaitu :
1. Penggunaan real konteks sebagai titik tolak belajar matematika
2. Penggunaan model yang menekankan penyelesaian secara informal sebelum menggunakan cara formal atau rumus
3. Mengaitkan sesama topik dalam matematika
4. Penggunaan metode interaktif dalam belajar matematika
5. Menghargai ragam jawaban dan kontribusi siswa
Treffer (Sugiman, 2003:165) mengemukakan beberapa prinsip pengajaran matematika melalui pembelajaran PMR adalah sebagai berikut :
1. Bermula dari proses tidak formal
2. Berangkat dari dunia riil anak
3. Kaya akan konteks matematika
4. Mengintegrasikan matematika dengan pelajaran lain
5. Memperhatikan perbedaan kemampuan anak
6. Pengelompokan anak dalam grup yang heterogen

About mustaphaawan

im a money seeker

Posted on Juni 15, 2011, in pendidikan matematika realistik(PMR). Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: